Ekonomi Bisnis

Kena Tarif Impor 32 Persen, Surplus Neraca Dagang Indonesia Terancam

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi mengumumkan pengenaan tarif impor terhadap lebih tinggi dari 180 negara yang tersebut menjalankan perdagangan dengan Negeri Paman Sam, plus pajak dasar 10 persen pada impor dari semua negara sebagai respons melawan apa yang mana disebutnya sebagai keadaan darurat ekonomi.

Sejumlah negara di area Asia Tenggara termasuk Indonesia tak luput dari pukulan tarif impor baru Trump. Dalam hal ini, Indonesia dikenai tarif 32 persen, Tanah Melayu 24 persen, Singapura 10 persen, Filipina 17 persen, Kamboja 49 persen juga Vietnam 46 persen.

Phintraco Sekuritas di risetnya menyampaikan, dampak jangka pendek yang tersebut akan segera terasa dari pengenaan tarif ini adalah pelemahan nilai tukar rupiah, mengingat kebijakan yang disebutkan dikhawatirkan menekan ekspor dan juga surplus neraca dagang Indonesia ke AS.

Angka surplus perdagangan non-migas Indonesia dengan Negeri Paman Sam mencapai USD2,55 miliar per Januari-Februari 2025. Secara nominal, Amerika Serikat menjadi top 10 atau berada dalam urutan ke-7 mitra dagang Indonesia pada periode yang digunakan sama.

“Produk ekspor utama meliputi garmen, alas kaki, peralatan listrik dan juga minyak nabati. Dengan demikian, perlu cermati bagaimana tarif ini terhadap prospek subtitusi Indonesia untuk produk-produk tersebut, khususnya India, Malaysia, China lalu beberapa negara ASEAN lain,” tulis Phintraco Sekuritas pada risetnya pada Kamis (3/4/2025).

Lebih lanjut, tarif yang dimaksud lebih besar tinggi yang tersebut ditetapkan Trump akan memukul perusahaan asing yang dimaksud mengirimkan tambahan banyak barang ke Amerika Serikat daripada yang mana dia beli. eksekutif pada dasarnya menghitung tarifnya untuk meninggikan pendapatan yang dimaksud mirip besarnya dengan ketidakseimbangan perdagangan dengan negara-negara tersebut.

Related Articles

Back to top button