Info Bisnis

Survei BIG Consensus 2026 Ungkap Tekanan Daya Beli dan Tantangan Pertumbuhan Dunia Usaha

Survei BIG Consensus 2026 memberikan gambaran tentang tekanan yang masih dirasakan dunia usaha Indonesia, terutama terkait pelemahan daya beli, ketidakpastian kebijakan, persaingan produk impor, dan akses pendanaan. Survei yang menghimpun 58 respons dari 57 asosiasi atau himpunan industri tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai volume Bisnis mereka tidak mengalami pertumbuhan berarti dalam dua tahun terakhir. Di tengah tantangan tersebut, pelaku usaha tetap melihat peluang dari perbaikan infrastruktur, akses pasar, serta kemungkinan ekspansi dalam 12 bulan ke depan. Temuan ini penting karena memperlihatkan bahwa pertumbuhan tidak hanya bergantung pada permintaan, tetapi juga konsistensi regulasi dan kesiapan dunia usaha.

BIG Consensus 2026 Memotret Tekanan terhadap Dunia Usaha

Survei BIG Consensus 2026 menggambarkan bahwa mayoritas responden dunia usaha masih melihat kondisi yang belum sepenuhnya kuat dalam aktivitas sektoral. Dari 58 responden, 48 dari 58 responden menilai volume bisnis di sektor mereka stagnan maupun mengalami penurunan. Dalam pembagian penilaiannya, 48,28 persen menyatakan aktivitas usaha cenderung stagnan, sedangkan 34,48 persen menyatakan aktivitas usaha menurun. Hanya 17,24 persen responden yang merasakan peningkatan aktivitas. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemulihan Bisnis belum dirasakan semua sektor.
BIG Consensus 2026 digelar pada 24 September sampai 15 Oktober 2026 dengan pendekatan purposive sampling. Kuesioner disebarkan kepada lebih dari seratus pimpinan asosiasi, lalu menghasilkan 58 respons, dengan 57 di antaranya berasal dari organisasi pelaku industri. Bidang usaha yang terwakili meliputi manufaktur, otomotif, elektronik, energi, pertambangan, keuangan, logistik, perdagangan, dan pertanian. Riset BIG Consensus berfokus pada empat aspek penting, yaitu makroekonomi dan akses pasar, evaluasi kebijakan dan fondasi investasi, lanskap pendanaan, serta hambatan berusaha. Dengan cakupan tersebut, survei memberikan potret kondisi Bisnis lintas sektor.

Permintaan Domestik yang Melemah Menjadi Tantangan Dunia Usaha

Tekanan terhadap kekuatan belanja masyarakat menjadi salah satu faktor paling dominan oleh responden survei. Dalam BIG Consensus 2026, 72,41 persen responden menempatkan lemahnya daya beli sebagai tantangan utama. Situasi ini dapat menekan permintaan terhadap produk, terutama pada Bisnis dengan konsumen rumah tangga. Ketika pelanggan lebih berhati-hati membelanjakan uang, perusahaan dapat mengalami tekanan pada omzet. Dalam kondisi seperti ini, pengusaha perlu mengembangkan produk yang lebih relevan tanpa terjebak perang harga.
Kondisi konsumsi yang melemah juga berdampak pada strategi Bisnis. Survei menunjukkan bahwa serbuan produk impor serta kompetisi harga yang tidak sehat masing-masing disebut oleh 34,48 persen responden sebagai gangguan terhadap dunia usaha. Bagi pelaku Bisnis, kombinasi daya beli yang turun serta kompetisi murah dapat membatasi ruang menaikkan harga. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengembangkan nilai tambah yang jelas. Strategi seperti diferensiasi produk, peningkatan layanan, efisiensi produksi, dan penguatan pelanggan loyal dapat mendukung daya tahan usaha meskipun hasilnya tetap bergantung pada kondisi sektor.

Ketidakpastian Regulasi Menambah Beban Dunia Usaha

Selain tekanan pasar, dunia usaha juga menghadapi tantangan dari sisi kebijakan. BIG Consensus 2026 mencatat 34,48 persen responden menganggap kepastian regulasi masih lemah, sementara 20,69 persen merasakan ketidakpastian yang lebih tinggi. Tantangan regulasi yang muncul mencakup ketidaksinkronan aturan pusat dan daerah, perpajakan, devisa hasil ekspor, sertifikasi, perdagangan, impor, serta tata niaga energi. Perubahan dan tumpang tindih aturan dapat membuat proyeksi investasi menjadi lebih rumit. Untuk pelaku industri, kepastian aturan penting karena pengembangan kapasitas membutuhkan horizon kebijakan yang lebih jelas.

Birokrasi dan perizinan juga dinilai masih menjadi hambatan. Sebanyak 43,1 persen responden menilai proses birokrasi dan perizinan masih kompleks, sedangkan 8,62 persen menilai tingkat kerumitannya sangat tinggi. Angka tersebut memperlihatkan bahwa penyederhanaan administrasi masih dibutuhkan. Ketika persyaratan berbeda antarinstansi, perusahaan dapat menanggung biaya kepatuhan yang lebih besar. Karena kondisi tersebut, dunia usaha menilai harmonisasi regulasi penting agar ekspansi Bisnis lebih mudah direncanakan.

Akses Pendanaan Menjadi Tantangan bagi Ekspansi Bisnis

Ekspansi usaha tidak hanya ditentukan oleh permintaan, tetapi juga memerlukan sumber pendanaan. BIG Consensus 2026 menunjukkan bahwa sumber dana dari luar perusahaan belum mudah diperoleh. Sebanyak 64,91 persen responden melihat pembiayaan melalui pasar modal sebagai tantangan terbesar. Kondisi pendanaan tersebut dikaitkan dengan tingginya biaya dana dan persyaratan. Sebagai respons, 77,19 persen pelaku industri bergantung pada sumber pendanaan perusahaan sendiri. Pilihan pendanaan internal dapat memberikan fleksibilitas tertentu, tetapi juga membatasi kecepatan ekspansi.
Penggunaan dana perusahaan sebagai sumber utama dapat menimbulkan tekanan arus kas saat ekspansi diperlukan. Untuk memberikan gambaran, perusahaan yang ingin membangun fasilitas baru mungkin memerlukan investasi besar. Ketika perusahaan hanya mengandalkan kas sendiri, proyek dapat dijalankan secara bertahap. Di sisi lain, keputusan menggunakan dana internal juga dapat mendorong disiplin investasi. Untuk pengelola perusahaan, hal penting adalah menghitung kemampuan pendanaan secara realistis. Dengan pertimbangan tersebut, perbaikan akses pendanaan perlu disertai analisis kelayakan investasi.

Peluang Pertumbuhan Tetap Terbuka dalam Dua Belas Bulan ke Depan

Di tengah kondisi Bisnis yang belum sepenuhnya kuat, responden BIG Consensus 2026 masih melihat peluang pertumbuhan dalam 12 bulan ke depan. Sebanyak 34,48 persen responden memperkirakan aktivitas usaha tidak banyak berubah, sementara 34,48 persen lainnya melihat peluang peningkatan moderat. Adapun 31,03 persen responden menilai kondisi usaha berpotensi menurun. Hasil proyeksi tersebut menunjukkan bahwa optimisme dunia usaha masih berhati-hati. Untuk perusahaan yang mempertimbangkan investasi, kondisi seperti ini menuntut pengelolaan risiko yang lebih ketat.
Salah satu faktor positif adalah kondisi infrastruktur nasional. Survei menunjukkan bahwa 53,45 persen responden memberikan penilaian netral terhadap kualitas infrastruktur, dan secara umum aspek tersebut dinilai membantu rantai pasok. Dukungan jaringan transportasi dan fasilitas dapat menurunkan hambatan operasional. Meski infrastruktur memberikan dukungan, manfaatnya akan lebih besar ketika daya beli membaik. Dengan kata lain, pertumbuhan membutuhkan dukungan dari berbagai faktor sekaligus.

Rangkuman Survei BIG Consensus tentang Kondisi Pertumbuhan Dunia Usaha

Temuan mengenai kondisi dunia usaha menunjukkan gambaran yang cukup jelas bahwa dunia usaha belum sepenuhnya berada dalam fase ekspansi. Persaingan produk impor, birokrasi, dan sulitnya memperoleh pembiayaan eksternal menjadi hambatan yang perlu diperhitungkan. Namun demikian, peluang masih terbuka dari akses pasar. Di kalangan dunia usaha, kondisi tersebut menuntut strategi pasar yang lebih adaptif. Berkat evaluasi usaha secara berkala, perusahaan dapat mengurangi risiko ketika kondisi berubah.

Pada periode mendatang, perbaikan kondisi dunia usaha akan sangat dipengaruhi daya beli masyarakat, konsistensi kebijakan, akses modal, serta kemampuan perusahaan beradaptasi. Pelaku industri dalam BIG Consensus menempatkan kepastian dan konsistensi regulasi sebagai salah satu agenda utama. Untuk pemilik Bisnis, temuan ini dapat menjadi bahan evaluasi strategi. Daripada bergantung sepenuhnya pada pemulihan pasar, perusahaan dapat mengembangkan pasar baru serta menjaga arus kas. Menurut pengalaman Anda, apakah kepastian kebijakan lebih menentukan pertumbuhan usaha? Silakan bagikan pendapat atau pengalaman Anda agar diskusi mengenai pertumbuhan dunia usaha semakin bermanfaat.

Related Articles

Back to top button